Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

June 24, 2008

MU'ALLIM HUSNI

Karib saya, mu’allim Husni (M. Husni Thamrin), Betawi asli Pondok Pinang adalah tipe seorang agamawan yang ketat tapi longgar, longgar tapi ketat. Seperti mu’allim Syafi’i (Alm.) gurunya, tokoh kita ini juga pemegang tradisi fiqh yang sangat kental. Khas orang Betawi yang begitu suka dengan simbol. Tapi juga, pengaruh pandangan sufisme melekat dalam dirinya.

Mu’allim Husni ini karib saya waktu meguru di sebuah pesantren di bilangan Jakarta Selatan. Kepribadiannya begitu sederhana, namun pandangan keagamaannya tidaklah sesederhana kepribadiannya. Saya menaruh harapan besar kepada karib saya ini. Belum ada tokoh ulama Betawi yang begitu dihormati seperti mu’allim Syafi’i. Kelak, dan mudah-mudahan do’a saya ini terkabul, karib saya itu pelan-pelan dapat menggantikan peran gurunya.

Terakhir saya ketemu karib saya itu dalam suatu kesempatan di tengah-tengah agenda kerja saya di Jakarta. Bersama seorang teman, Lukmanul Hakim, doktor muda lulusan Australia yang sampai hari ini belum beristri, saya menggoda karib saya itu. “Ustadz,” begitu saya memanggilnya. “Gimana nih, kapan kita jalan bareng, nyanyi-nyanyi lah,” kataku. “Boleh,” katanya. “Tapi ada ga yang memberi garansi kepada saya tidak mati di tempat karaoke,” sambungnya.

Saya tertawa terbahak-bahak. Luar biasa karib saya ini. Menampar saya persis di muka. Tanpa basa-basi. Tangkas dan mengena betul. “Soal garansi itu gampanglah,” kata saya. “Tapi, ustadz maukan?”, tanya saya. Seperti setan saja saya ini. Membujuk seorang mu’allim untuk sebuah kegiatan yang belum pernah dilakukannya. Untuk menghormati teman, mu’allim kita ini tidak bisa menolak.

Pergilah kami ke sebuah tempat karaoke (family karaoke) di bilangan Permata Hijau. Bertiga kami seperti berlomba menampilkan bakat masing-masing. Sebetulnya bukan karaokenya yang menarik. Tapi, diskusi sepanjang perjalanan dari pergi sampai pulang, di tengah kemacetan Jakarta itulah yang sangat mengesankan.

Sebuah reuni yang menyenangkan. Bertemu dengan karib setelah lama tidak bersua. Pasti di antara kami menyimpan pertanyaan sendiri-sendiri. Wah beda banget ya sekarang. Wah lo sekarang jauh banget berubahnya. Aha... tapi tidak ada satu pun keluar kata-kata itu. Pertemuan kami bertiga sebenarnya terlalu serius untuk disebut sebagai reuni.

Di antara kami selalu ada perbedaan cara pandang atas sesuatu. Seperti karib saya, mu’allim Husni yang selalu bicara soal muru’ah. Lukman yang sibuk dengan urusannya mencari istri di sela-sela perhatiannya terhadap naskah-naskah klasik ulama nusantara. Sedang saya mencoba berargumen tentang etika sebagai landasan moral sosial dalam membangun peradaban manusia. Ce ile...tinggi banget!

Soal muru’ah sempat menjadi topik diskusi menarik kami bertiga. Mu’allim kita begitu ketat menjaganya. Suatu hari saya akan menulis topik ini secara lebih serius. Setidaknya diskusi kami soal ini cukup toleran. Pada sisi tertentu kami saling berdialog. Saling membuka ingatan dan mengeluarkan refleksi masing-masing. Semakin berdialog dengan mu’allim Husni, semakin besar respek saya padanya. Sekali lagi, saya berdo’a untuknya: Ingat ustadz! Mu’allim Syafi’i belum muncul penggantinya. Mungkinkah kelak kamu, karibku....

January 21, 2008

PERJALANAN 2

08.30, bangun pagi. Pak Mursyid sejak jam 05.00 sudah bersiap pergi ke Rindu Alam. Kupikir bangun sepagi itu terlalu awal memulai sesuatu. Setelah semalaman hujan deras, pagi inilah semestinya aku ke Bukit Tinggi. Jam Gadangku mungkin lelah menunggu. Awak ini tak dapatlah kawan yang mengantar segera. Sebab, belum kupercaya ini Bukit Tinggi jika belum lihat jam gadang. He he he, seperti 14 tahun yang lalu, saat seorang kawan kuajak pergi ke Jakarta. Sebelum lihat Tugu Monas, rasanya belumlah sampai di Jakarta. Ha ha ha, maklum kita ini wong ndeso… serba sulitlah. Harus cari bukti dulu dari setiap keberadaan kita di sana. Kupendam lagi keinginan bertemu Jam Gadang. Tak enak rasanyo awak tak datang pula ke Rindu Alam ini.Baiklah kalau begitu. Sarapan pagi sudah tersedia di meja. Biasalah, khas ala Minang. Kawanku, si Shaleh itu, dialah yang paling doyan kalau soal makan. Aku sih, ala kadarnya. Standard food from Minang.


09.30, kami dijemput ke lokasi. Onde mande, ambo tak percayo…!! Sudah banyak pula urang awak ni datang ke Rindu Alam. Banyak nian pejabat…ha ha ha. Di Rindu Alam inilah kami memulai membicarakan masa lalu. Entah untuk apa pembicaraan itu. Tokh, aku tak jua memikirkannya lebih dalam. Ini soal bagaimana buku “Koto Gadang Masa Kolonial” cepat tersebar. Tentunya banyak yang beli juga lah….


13.00, mari kita selesaikan saja! Perut sudah memanggil-manggil. Kali ini, ala maaakk… Onde Mande pula…hidangan. Lagi, kami bertemu dengan unsur-unsur dalam pohon kelapa. “Kolesterol lah itu”, katanya. Kawanku bilang: “Ah, kau ini. Apa pula…”. “Sudahlah, kau makan saja itu dagingnya. Kau ganyang saja itu santan, tapi jangan kau sertakan pula kolesterolnya”…He he he…


Pak Anas, aku tahu sudah datang. Kawanku yang satu ini luar biasa. Semangatnya, dedikasinya pada dunia buku, khususnya membangun jaringan marketing. Ingat Pak Anas, Sicilian Friendship bukan Yakuza Fighting atau kesetiaan keluarga ala Triad. Begitu kira-kira nasihat ala Al-Pacino dalam God Father, yang selalu kulihat berulang-ulang di tengah-tengah suasana libur di hari minggu. He he he Pak Bos pasti tahulah apa maksudnya. Tapi, gimana nih dengan jam gadangnya? He he habisnya kita belum merasa sampai di Bukit Tinggi nih…


Sekali lagi kami masuk dalam kabin Xtrail. Pak Anas, wah makasih lho…akhirnya aku bisa tahu rasanya Xtrail. Berangkatlah kami ke Jam Gadang disambut rintik hujan..seperti biasa berphoto ala turis lokal. Norak plus bangga gitu looh. Turun kembali menuju goa Jepang, Ngarai Sianok. Waw! Very surprizing….memukau. dulu, aku hanya melihatnya dari uang kertas 1000 perak. Sekaranglah baru, untuk pertama kalinya, kulihat Ngarai itu. It’s beautiful nature phenomenon!!!. Nggak habis pikir juga ya… seperti membelah bumi. Jepang bersembunyi, konon pula membuang mayat romusha dari goa dilempar begitu saja ke ngarai ini….Ia seperti menjadi saksi yang tak mungkin kita tanyakan. Tapi, keangkuhannya menceritakan banyak hal di masa lalu. Ngarai yang mungkin sudah terbentuk entah berapa ratus tahun lalu.


Oke..kembali kami meluncur ke Fort De Kock. Benteng yang dibuat tahun 1825 ini konon dibuat untuk menghalau serbuan tentara Paderi. Tidak kurang 20 meriam diletakkan di setiap sudut pandang ke lembah-lembah di sekitarnya. Dari sanalah mata mengintai pergerakan kuda dan para pasukan Paderi. Sebentar kami nongkrong di atas minum kopi. Kepala ini rasanya kliyengan. Butuh air hitam panas menyembuhkannya. He he he biasalah sudah lumayan berumur. Capek dikit masuk anginlah ambo…Jam menunjukkan pkl. 16.00. saatnya Tabi (eh kami) berpisah dengan Bukit Tinggi.


Perjalanan ke Padang kita ambil jalur alternatif Bukit Tinggi Pariaman lewat Maninjau- Lubuk Basung. Sengaja kami memilih jalan memutar agar bisa lewat Danau Maninjau. Siaran televisi swasta memuat cerita tentang ikan-ikan kecil khas danau ini. Ah…pasti lezatos. Makan di bibir danau. Di tempat para petambak menabur benih ikan-ikan air tawar.


Mungkin bukan pertama-tama tujuan perjalanan itu yang menarik. Perjalanannya itu lho…(bahasa angkuhnya proses) bagaimana kita sampai di tujuan. Kami melewati bebukit berliku, naik dan turun gunung, membaca lembah dan ngarai-ngarai kecil. Kelok 44 begitu orang Minang memberi nama. Tentang kera-kera kecil yang menunggu lemparan sebiji kacang di sisi kiri-kanan jalan. Aduhai….. rasanya penting kembali ke sini. Setidaknya harus bermalamlah. Suasana alam pegunungan yang sejuk dan melenakan. Rasa capai rasanya tergantikan dengan udara bersih dan rasa gentar menatap danaunya yang elok. Kupikir pemerintah kita seharusnya tahu bagaimana mengembangkan tourism.


Danau luas tapi tak seluas pikiran kita memanfaatkannya. Aku sejak awal berencana naik perahu atau boat kecil agar bisa mencapai titik tengah danau. Jangankan boat, perahu getek saja sulit kutemukan selain milik petani tambak. Di mana dunia pariwisata kita. Modal alamnya yang elok terhamparlah di belahan nusantara. Tapi, pikiran kita belumlah sampai bagaimana mengembangkannya. He he he…


Menjelang Isya, Xtrail kami sudah masuk Padang Pariaman. Itu artinya tak lama lagi, mungkin sekitar 30 menit kami akan masuk ke Kota Padang. Jadi apalagi yang belum kudapat. Oke…Durian! Nah, ini yang menarik. Di Jawa kita makan duren seperti makan buah lainnya. Di Padang kita melahapnya dengan penganan ketan. Pertama kupikir agak aneh juga makan duren dengan ketan. Ternyata ….. di sini kedahsyatannya…. Jadi jangan khawatir sakit perut kalau makan duren di Padang sebelum makan. Tentunya juga perutpun tidak terasa panas. Karena ketan dapat berfungsi mendinginkan zat-zat yang terkandung dalam duren. Ketan dapat menetralisirnya. Itulah mengapa orang Padang makan duren dengan ketan.


Oke Pak Anas, Datuk Alwis….Silahkan menikmati pengembaraan lainnya. Good Bye Minang…. May be I will visit you again!............

January 15, 2008

Orang Minang Pelihara Anjing

Perjalanan ke Ranah Minang memberiku sedikit argumen sosiologis (mungkin juga anthropologis) mengapa Prof. Hamka pernah memelihara anjing. Kupikir ini bukan soal mazhab mana yang mau diambil. Jadi, juga bukan soal hukum halal-haramnya. Di perkampungan-perkampungan muslim di Ranah Minang, anjing biasa dipelihara untuk berburu. Biasanya berburu Celeng (babi hutan) atau hama perusak ladang lainnya. Sangat sulit membayangkan memelihara anjing tanpa menyentuh anjing itu sendiri. Sekalipun, dalam perjalanan, saya tidak menjumpai mereka bersentuhan dengan anjing. Dalam pikiran saya, pasti mereka sangat kerepotan bila harus bersuci terus-menerus hanya karena seekor anjing peliharaan. Rasanya ini soal tradisi. Adat kebiasaan yang sudah lama berlangsung. Semacam tindakan yang barangkali bisa dipahami dalam kerangka maslahah mursalah.Apa yang terlihat di Ranah Minang juga dapat dijumpai di Banjarnegara. Pada musim-musim tertentu semacam tradisi berburu tikus sawah dan hama perusak ladang dengan anjing. Sampai di sini tidak jauh beda. Kalau dicari perbedaannya mungkin dapat ditemukan dari stereotip masyarakat suku Minang dan Jawa yang memiliki kekhasan dalam menyikapi agama dan budaya. Orang Jawa cenderung melihat agama dari sisi simboliknya. Sementara Orang Minang melihatnya dari sisi normatifitasnya. Tetapi keduanya, sama-sama memiliki cara pandang budaya yang sama terhadap anjing. Ya....sekurang-kurangnya sama-sama tidak anti anjing, tapi memeliharanya...

Agak mengejutkan juga buat saya sebelumnya melihat kecenderungan seperti itu di Ranah Minang. Alwis, kawanku itu sempat kutanyakan. Seperti sudah kuduga jawabannya: "anjing bagi orang Minang itu untuk dipelihara sebagai teman berburu. Bukan untuk dimakan", katanya.

Menarik juga ya...



January 10, 2008

PERJALANAN

Selasa, 8 Jan 2008

04.00 bangun tidur. Siap2 berangkat ke Bandara. Tepat pkl. 06.15 burung garuda membawaku terbang berpindah dr Jawa ke Sumatera.

Pkl. 07.40 burungku mendarat mulus di Minangkabau Airport. Waw! lebih bagus dr sebelumnya di Tabing. Teman kami Pak Anas, bos penerbit Erlangga Padang menjemput. Padahal aku juga sudah ditunggu jemputan lain yang akan membawaku ke Bukit Tinggi. Ku pilih Xtrail nya Pak Anas. Tentu saja bukan krn mobilnya (he he he). Pak Anas, kawanku ini dulu di Yk. Kubilang padanya; "Ga kesepian nih di Pdg?" he he he. Tahulah aku jawabannya. Padang jauhlah bedanya dgn Yk. Pak Anas mengajakku singgah dulu di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 27, kantornya yg baru. Asyik juga!!! Sedikit kerusakan sisa gempa.Sktr pkl. 12 kami cari makan. Xtrail kami meluncur deras menuju Unang Rindu, di bibir pantai Padang. Orang Padang sih bilangnya Taplau (Tapi Laui). Unang Rindu, warung makan bibir pantai itu menyerang perutku yg sejak pagi memang blm makan. Cukup lezat hidangan khasnya, cumi dan udang bakar, peyek ikan, plus teh telor. Segala ubo rampe hidangan tertelan dengan lahap. Lumayan pula, untuk urusan ini kami hrs keluar sajen tak kurang dr 150 tail mojo. Kau pahamlah maksudnya....

Pkl. 13.00 Xtrail kami berputar ke arah Padang Panjang-Bukit Tinggi. 70 km hrs kami tempuh! melewati jln gunung berliku. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menikmati keangkuhan bukit barisan, di antara Gunung Singgalang-Gunung Marapi. Ah, aku jadi teringat buku “Tuanku Rao” karya Parlindungan itu. Membayangkan berada di wilayah padang panjang-bukit tinggi ini, dengan lembah-lembahnya, memberi gambaran tentang arah dan pergerakan Paderi's Forces.

Aku dikejutkan oleh pemandangan eksotik di lembah anai. Air terjun tinggi menjulang di sisi kiri jalan dari arah Padang. Di atasnya dibelah oleh jalan kereta api yang sudah berapa tahun tidak lagi beroperasi, di antara himpitan dua buah bukit anak pegunungan bukit barisan. Kupikir ini dulunya adalah lembah. Belanda memulai pembangunan jalan kopi ke kota bukit tinggi. Generasi muda kita sekaranglah yang datang dan pergi ke lembah ini untuk memadu kasih. Ha hiya….alah….alah…. alah.

Istirahatlah dulu kami di sana. Sedikit meninjau situasi sambil mengambil beberapa obyek layaknya turis amatir. Sedikit ada buktilah aku pernah mampir di sana. Supaya bisa kuceritakan kepada seorang kawanku, asli minang, Datuk Alwis Rustam. Kusebutlah begitu. Biarlah dia tak lupa asal-usulnya sendiri. Hey…. Awak ni gimano? Masih orang minang kah? He he he…

Tak lama kami istirahat. Mungkin sekitar 15 menit saja. Xtrail kembali melaju sombong membelah jalan berliku. Eit sekitar 30 menit berlalu. Sampailah kami di Kotobaru. Sekitar 3 km lagi sampai ke Bukit Tinggi. Kawanku bilang: kita mampir lagi ya...di sini ada makanan khas, katanya. Awak ni tahu sajalah hobi kita: wisata kuliner jugalah seperti orang-orang kaya itu. He he he

Xtrail kami pun merapat di Bika Simariana, Koto Baru. Waw! Very exciting! Very excotic! So....traditional moment at the Paderi’s Land! Oke...mari kita ganyang itu Bika....Sangat khas..Makanan dari tepung beras dicampur dengan parutan kelapa dan air kelapa. Ditambah sedikit garam. Gurih sekali....very lezatos...khas makanan padang yang tak pernah melewatkan unsur-unsur pohon kelapa di dalamnya. Cara memasaknya itu lho...Ruarr biasa... Kalau kamu pernah makan serabi Betawi pasti kebayang deh caranya masak. Bika Simariana pun dimasak dengan cara itu. Bahkan lebih unik lagi... tungku berjejer 20 buah dibakar dengan kayu. Ditata sedemikian rapi oleh dua orang juru masaknya. Weleh...weleh.... Pulanglah kau Wis! Sebentar saja....bagaimanapun ini tanahmu...Datuk! he he he.

Tiba-tiba tlp berdering. Pak Mursyid: Hallo, posisi sekarang di mana?, katanya dari sana. “kami sekarang sedang menikmati hidangan hangat Bika Simariana”, kataku. Oke... tunggulah sebentar lagi kita ketemu di Rindu Alamnya Abang Ing...Datuk pulalah awak ni...Putra ketiga, kakak kandung Datuk Alwis kawanku yang American Style itulah.... he he he. Guyonlah awak ni...

“Selamat Datang di Bukit Tinggi”...Kubilang: belumlah aku sampai...aku belum lihat jam gadang yang terkenal itu, kataku. Besoklah kita ke sana. Hari ini kita istirahat dulu di Birugo, land of Datuk Alwis was Born. Bener ga ya....he he he. So tahu lo...! Malam pun tiba. Sedikit berbincang dengan tuan rumah di Birugo. Ngantuk pula awak ni…Tidurlah kita…mimpi jam gadang, mimpi ke Maninjau…Mimpi masa silam in the land of Paderi.