Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

July 23, 2008

DEAD POETS SOCIETY; PESANTREN DAN SASTRA YANG MEMBEBASKAN

Dead Poets Society (DPS), film produksi Peter Weir dan Paul Junger Witt, dibintangi antara lain; Robin Williams, yang berperan sangat apik sebagai seorang guru bahasa, pertama kali di rilis tahun 1989. Film ini mengambil setting sekolah khusus remaja (laki-laki), Welton College, di mana para muridnya berasal dari kalangan orang-orang ternama. Mereka yang sekolah di sini wajib tinggal di asrama dengan aturan-aturan yang sangat ketat dan disiplin tinggi. Karena mereka tengah disiapkan sebagai calon-calon pemimpin generasi aristokrasi baru di Amerika.

Film ini bercerita tentang seorang guru yang memberi inspirasi anak didiknya untuk mengubah pandangan dan sikap mereka agar hidup lebih dinamis, percaya pada pilihan sendiri dan berani menyuarakan ketertarikan serta bakat personalnya. Untuk melakukan sesuatu yang dianggap mustahil di sekolah itu, sang guru pun mengajarkan mereka puisi dan sastra. Sesuatu yang kelak mendorong perubahan, gejolak di kalangan para guru dan pimpinan institusi yang bersangkutan. Dengan hasil akhir, sang guru (yang menjadi guru favorit di sekolah itu) harus pergi karena dianggap bersalah.

Berikut saya kutip ringkasan film DPS yang saya ambil dari november-november.blogspot.com. Blog ini milik seorang Ibu muda bernama Ratna Noviasari (Ibunya Nisa, begitu si Ibu ini memperkenalkan dirinya). Perempuan berjilbab ini, secara pribadi belum saya kenal dan sampai tulisan ini saya buat pun belum sempat saya berkomunikasi dengannya. Secara etis memang saya sudah meminta ijin mengutip narasinya tentang film DPS. Film ini kebetulan juga salah satu film favorit saya. Sekitar tahun 1991, ketika saya masih semester awal kuliah film ini telah berulang-ulang saya tonton.

Film ini secara khusus menginspirasi saya untuk membentuk sebuah kelompok sastra di kampus IAIN Sunan Kalijaga (sebelum berubah menjadi UIN) bernama Komunitas Anak Merdeka (KAM). Di waktu-waktu senggang kami berkumpul melingkar dan setiap individu membacakan puisi-puisinya. Ketika komunitas Matapena (berdiri 2005), kumpulan para penulis muda berlatar pesantren ini sedang giat-giatnya menyelenggarakan road show dan temu penulis sambil mengembangkan workshop creative writing untuk para santri, saya seperti diingatkan kembali oleh film ini.

Google searching cukup berjasa mempertemukan saya dengan blog Ibu muda ini. Saat itu, saya sedang mencari tulisan-tulisan orang seputar film DPS untuk menjadi bagian dari metode refleksi dalam kegiatan Liburan Sastra di Pesantren (LSDP) komunitas Matapena. Blog Ibu muda ini menulis apresiasi yang cukup bagus tentang film tersebut. Berikut adalah ringkasan yang saya ambil dari blog-nya, dengan beberapa potongan konteks yang saya anggap tidak perlu.

“Film ini bercerita tentang Mr Keating (Robin Williams) yang menjadi guru di Welton, sekolah berasrama khusus putra. Di tengah-tengah suasana asrama yang kaku, peraturan yang ketat dan cara mengajar yang kuno (orang dulu bilang DDCCH: Duduk, dengar, catat, hapal) keberadaan Keating memberikan suasana baru. Cara Keating mengajar bukan saja menarik tapi juga membuka pandangan baru bagi siswa Welton. Beberapa siswa Welton (Neil, Todd, Cammeron, dll) yang menjadikan Keating sebagai guru favorit mencoba mengikuti masa lalu Keating ketika menjadi siswa di Welton dengan membentuk Dead Poets Society (DPS). DPS adalah kelompok yang selalu mengadakan pertemuan rahasia di sebuah gua dekat sungai tak jauh dari asrama. Dalam pertemuan itu setiap anggota membacakan puisi. Baik puisi karya pengarang terkenal maupun puisi karangan sendiri, selain itu mereka juga berdiskusi tentang berbagai hal. Pendeknya, pemikiran murid-murid Keating mengalami keterbukaan dan kebebasan. Mereka kemudian menjadi berani mengambil keputusan yang diyakini oleh hati mereka. Salah satunya Neil, siswa yang sangat cerdas dan sangat tertarik pada teater. Namun keinginannya ditentang oleh ayahnya. Neil bersikukuh, sehingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk memindahkan Neil dari Welton dan memasukkannya ke sekolah militer. Neil yang tidak mau menerima akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Kejadian ini menghebohkan dan membuat gusar seluruh orangtua murid. Para orang tua murid mendesak sekolah untuk bertanggung jawab. Karena didesak, akhirnya sekolah mencari kambing hitam. Kambing hitamnya adalah Keating. Guru yang dianggap nyeleneh ini didakwa mempengaruhi para siswa untuk melakukan pemberontakan. Penghianat selalu ada dalam kasus seperti ini. Cammeron menjadi penghianat yang membocorkan mengenai Dead Poets Society demi menyelamatkan diri. Para anggota Dead Poets Society didesak untuk menandatangani pernyataan yang menyalahkan Keating. Keating berhasil dikeluarkan dari welton, namun Keating juga berhasil menjadikan murid-muridnya menjadi orang-orang yang berpikiran merdeka dan berani menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Keating berhasil memberikan 'pendidikan' dalam arti yang sesungguhnya. Di akhir cerita, ketika Keating hendak meninggalkan kelas, para muridnya berani berdiri di atas meja beramai-ramai di depan mata kepala sekolahnya.”


Sekolah berasrama Welton (Welton College) mungkin tak ubahnya Pesantren. Lembaga pendidikan yang telah lama ada di bumi nusantara sejak beberapa abad yang lampau, khususnya di pulau Jawa. Gambaran umum tentang Pesantren dapat dibaca dalam tulisan Abdurrahman Wahid, “Pesantren Sebagai Subkultur”, “Tradisi Pesantren,”-nya Dzamahsyari Dhofier dan KH. Saefuddin Dzuhri dalam “Guruku Orang-orang Pesantren”. Secara ringkas, Pesantren merupakan tempat para santri tinggal (mondok), untuk menimba ilmu dari sang guru (Kiai). Orang-orang pesantren sudah teramat biasa hidup dalam aturan-aturan yang ketat, batasan-batasan pergaulan yang dilandaskan pada keyakinan agama. Itulah mengapa para santri sering menyebut Pesantren sebagai ‘penjara suci’.

Film DPS menjadi cermin yang cukup muqtadhal hal (kontekstual) untuk melihat bagaimana jalan pembebasan –sebagaimana ditunjukkan film ini-- sastra itu berlangsung. Dinamisme, kegairahan, kegembiraan anak-anak muda, pencarian dan usaha keras –seperti ditunjukkan oleh komunitas Matapena—dalam merumuskan eksistensi mereka tampak begitu meyakinkan. DPS harus saya anggap sebagai film terbaik untuk melihat bagaimana sastra menemukan rumahnya. Sebuah tontonan bernilai sastra dan inspiring dalam menatap dunia Pesantren kita dewasa ini.

Pesantren Dan Metode Sastrawi (Al-Manhaj Al-Adaby)
Tradisi dan pola belajar mengajar di Pesantren sangatlah berbeda dengan dunia luar. Cara mereka mengatur waktu menjadi tidak biasa jika diterapkan dalam kehidupan umum. Para santri pun tidak diperbolehkan keluar-masuk sembarangan dari lingkungan Pesantren tanpa ijin dari pengasuh atau pengurus. Biasanya, pengurus adalah santri senior yang ditugaskan Kiai untuk mengawasi para santri. Gambaran kehidupan di lingkungan Pesantren yang cukup ketat ini dimaksudkan sebagai pengejawantahan nilai-nilai keagamaan seperti; menjaga amanah. Sebab, para santri ini tidak hanya berasal dari lingkungan Pesantren itu sendiri, tetapi juga mereka datang dari berbagai pelosok daerah. Para orang tua menitipkan anak-anak mereka untuk dididik agama. Kepercayaan (amanah) itulah yang dijaga Pesantren agar para santri belajar sungguh-sungguh dan tidak mengecewakan orang tua dan masyarakat yang menunggu peran mereka.

Di lingkungan Pesantren, sekalipun mata pelajaran sastra tidak diajarkan secara khusus, instrumen-instrumen pemahaman sastra dan pendekatan sastrawi dalam praktek pendidikan ala Pesantren sesungguhnya menjadi metode yang sangat kuat berakar. Secara teoritik mungkin hal ini tidak disadari sebagai bagian dari metode. Pada kenyataannya, gaya dan suasana, tradisi dan pola belajar mengajar di Pesantren sangat mengedepankan pendekatan-pendekatan sastrawi.

Tradisi melantunkan dan menghafal bait-bait nadhom sebagai penghantar mata pelajaran ilmu alat seperti; nahwu dan shorof memudahkan mereka mencerna pemahaman atas ilmu itu sendiri. Kajian-kajian atas kitab kuning karya ulama dan shalaf al-shalih lainnya, untuk sebagian di antara kitab-kitab tersebut ditulis dengan tekstur sastrawi dan berunsur puitik, seperti kitab Zubad, misalnya, cara mengkajinya pun dimulai dari melantunkan dan menghafal bait demi bait isi dari kitab tersebut, betapapun materi dari kitab-kitab itu berisi ajaran-ajaran tasawuf, teologi maupun kaidah-kaidah fiqhiyah dan ilmu-ilmu alat (pengetahuan gramatika bahasa Arab). Kebiasaan sedemikian, secara tradisional membuat lingkungan Pesantren dan para santri khususnya begitu akrab dengan syair-syair, nyanyian-nyanyian, puji-pujian yang menjadi penghantar mereka dalam menghafal pelajaran dari mana pemahaman dan pengetahuan agama mereka ditransferensikan.

Metode sastrawi pada akhirnya menjadi jiwa dari tradisi dan pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren itu sendiri. Sekalipun para santri tidak secara teoritik belajar sastra, dunia sastra itu sendiri bukan sesuatu yang asing di lingkungan mereka. Kegiatan-kegiatan haflah (pertemuan para santri) yang secara periodik dilakukan biasa ditampilkan pula pementasan-pementasan kesenian khas Pesantren seperti; kasidah, terbangan, pentas rebana dan lain-lain. Bahkan di waktu-waktu tertentu pula selalu ada kegiatan lomba seperti; membaca kitab al-Barzanji dan hapalan bait-bait alfiyah Ibnu Malik dan sebagainya.

Tradisi dan kultur Pesantren yang akrab dengan dunia sastra itu dari tahun ke tahun, seperti tak habis-habisnya melahirkan para pegiat sastra baik yang berkecimpung di tingkat lokal maupun nasional seperti; Faizi El sael, Ahmad Syubanudin Alwi, Haqqi al-Anshory, Arief Fauzi Marzuki, Acep Zamzam Nur, D. Zawawi Imran, Ahmad Tohari, Ragil Suwarna Pragolapati (Alm.), Zaenal Arifin Thoha (Alm.), KH. Maman Imanul Haq, Ahmad Zaky (Zaky Zarung), Mahbub Jamaluddin, Sachree M. Daroini, Kaje Habib, Nor Ismah (Ismah Kajee), Ma’rifatun Baroroh, Pijer Sri Laswiji, Ully, dan tentunya masih banyak lainnya yang tidak sempat disebut di sini.

Pengalaman dan keakraban bersastra yang melekat dalam tradisi dan pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren itu menjadikan sastra tak ubahnya jiwa dari kehidupan Pesantren itu sendiri. Sastra seperti menemukan rumahnya yang nyaman. Kegiatan sastra begitu nyata dihidupkan, tapi juga barangkali masih malu-malu untuk diakui sebagai bagian dari tradisi Pesantren itu sendiri. Karenanya, proses mengembangkan sastra di lingkungan Pesantren pada akhirnya harus terus menerus dilakukan, bukan semata-mata karena sastra menjadi jembatan penghubung pembelajaran ilmu-ilmu agama. Lebih dari itu, usaha ini dilakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban religi atas nilai-nilai agama itu sendiri. “Innallaha jamilun yuhibbu al-jamal.” Allah lah yang terindah. Dia yang menyintai keindahan. Dan, puncak dari segala yang bernama keindahan adalah kembali ke asal mula keindahan dengan cara-cara yang sarat keindahan pula (husnul khotimah).

Sastra Sebagai Jalan Pembebasan
Sastra merupakan jalan pembebasan. Ia hadir di tengah carut marut kehidupan dan sistim sosial yang mampat. Sastra juga menjadi kunci pembuka kebuntuan akibat ketatnya aturan-aturan yang memancung kreativitas dan kebebasan individu. Sastra di lingkungan Pesantren menjadi jalam pembebasan dari kebuntuan memahami pelajaran dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Sastra diakui atau tidaki telah menjadi wasilah (penghubung) internalisasi pendalaman pengetahuan di bidang agama.

Perlu dikemukakan pula di sini, lingkungan Pesantren pada umumnya miskin pengakuan dan cenderung ‘alergi’ terhadap sastra. Bahkan, sastra dianggap sebagai bidang keilmuan yang tidak penting diajarkan. Kecenderungan ini berawal dari munculnya anggapan bahwa sastra akan mendekatkan seseorang pada aspek-aspek ‘ma’ashiy’ (sesuatu yang bersifat maksiat) dan karena itu bersastra (baca: berkesenian) sebagai sesuatu yang tabu bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan agama. Walaupun sebetulnya bukan sastra itu sendiri tetapi lebih pada persoalan sosiologis. Bahwa sastra, dalam pengertian dunia seni misalnya, cenderung berdampak pada kegiatan-kegiatan yang secara normatif melanggar kaidah-kaidah ajaran agama.
Namun demikian, lingkungan Pesantren tidaklah memungkiri peranan metode sastrawi dalam transferensi ilmu-ilmu keagamaan. Pada kasus ini tampak adanya pola hubungan, sebagaimana telah dikemukakan, masih malu-malu. Di satu pihak sastra tidak dianggap sebagai unsur penting dalam pengajaran, sementara di pihak lain sastra digunakan sebagai instrumen pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren.

Secara teoritik mereka tidak perlu mengerti apa itu sastra. Hidup dan aktivitas sehari-hari mereka di lingkungan Pesantren selama bertahun-tahun pada akhirnya justru menjadi jalan sastra itu sendiri. Mereka adalah lakon dalam pentas laku sastra di lingkungan Pesantren. Jadi, sastra di lingkungan Pesantren bukanlah sesuatu yang menempel dan atau ditempelkan begitu saja. Jalan sastra yang lahir dari tradisi panjang itu merupakan sesuatu yang sudah ratusan tahun melekat. Sejarahnya begitu panjang sebagaimana Pesantren itu sendiri. Sastra, dan dengan demikian metode sastrawi di lingkungan Pesantren diakui atau tidak hakikatnya adalah ‘nalar religi’ lain yang dikembangkan Pesantren secara ‘given’ atau dalam bahasa Pesantrennya sesuatu yang bersifat ‘laduniyah’.

Seiring dengan perkembangan jaman, sastra telah menjadi ‘living tradition’ di lingkungan Pesantren yang tidak lekang di makan waktu. Bilamana mereka telah menjadi bagian dari kehidupan yang lebih umum metode sastrawi ini menjelma dalam habit kerja-kerja kultural mereka di masyarakat. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sisi keluwesan dan kelenturan orang-orang Pesantren menerima hal-hal baru tanpa merasa perlu menjadi bagian dari kebaruan itu sendiri. Dalam arti, semodern apapun orang Pesantren bukan hal mudah bagi mereka untuk mengubah kultur kepesantrenan mereka. Menjadi modern bukan berarti menjadi orang lain yang sama sekali baru. Sebuah eksperimentasi yang miskin apresiasi bahkan dari negara sekalipun. Wallahu’alam.
---------------------------------
Akhmad Fikri AF. adalah direktur penerbit LKiS Jogjakarta dan pembina komunitas Matapena. Menulis puisi sejak 18 tahun yang lalu. Sebagian puisi-puisinya dipublikasikan di NEW KIDS ON THE BLOG-nya sendiri.

July 21, 2008

WHAT KIND OF BUDHA ARE YOU?

In the moment of truth Baduraman Dorpi Parlindungan Siregar

Bertemu guru bila didasarkan pada rasa rindu seperti bertemu dengan mata air pengetahuan. Sebagai seorang murid, terbetik pula keinginan untuk mengritik guru. Tak lain, hanya untuk dikatakan bahwa si murid mengalami perkembangan. Sang guru pun akan mengerti dan dapat mengukur seberapa perkembangan itu dirasakannya.

Bertemu guru di senja yang berkeringat, seperti berada dalam ruang ujian. Tugas akhirmu masih jauh dari selesai. Kamu masih membutuhkan proses pendewasaan. Kamu masih harus berpikir tentang sebuah proses yang selalu perlu kau lewati. Dasarnya adalah, pengalamanmu masih jauh dari cukup untuk membuat sebuah rumah menjadi nyaman huni. Sebuah rumah dibangun bukan untuk ditinggali tapi dimaknai terus-menerus. Proses itu yang ditunggu seorang guru. Baginya, bukan tujuanmu yang akan dinilai. Tapi, bagaimana kau memaknai proses yang acap kali berubah-ubah.

Bertemu guru di senja yang remang, lebih dari tiga jam berbicara dan lebih banyak menyimak-mendengarkan celotehnya, cukup membosankan sekaligus mencoba memaksa diri untuk menerima kebaikan. Mungkin kita harus membiasakan diri belajar kebaikan dari cara-cara yang sungguh cukup menyiksa. Namun, akhirnya ketulusan akan datang juga jika kita merasa kurang dan memiliki kejembaran hati dan keluasan pikir bak samudra.

Bertemu guru, sekali lagi adalah bertemu dengan mata air pengalaman. Tempat dari mana kita menimba asal dari segala yang kita sebut pengetahuan. Bertemu guru, bertemu seorang sahabat yang kerelaan hatinya melebihi kemauan diri kita sendiri untuk menerimanya.

Bertemu guru, hatiku berkecamuk. Rasa capai perjalanan, kantuk dan lelah yang lungkrah seperti tak terasa. Aku lebih ingin disiram air pengetahuan. Sebab aku tahu, pengalaman guru lebih dari sekadar ilmu. Nasihat guru lebih dari sepotong gincu pemanis bibir agar dikatakan seksi. Ceramah guru tak ubahnya serbuan selongsong peluru. Ia begitu saja menghujam tepat di jantung kesadaran. Menohok pelahan masuk dalam urat nadi dan detak jantung. Suka atau tidak suka, nasihatmu kutelan. Kusimpan sebagai bahan ajar bagi diriku. Mungkin kelak aku menemukan diriku sendiri. Sebagaimana kau inginkan: what kind of Budha are you? (MKOBAY)

*****

What kind of Budha are you? Sudahkah kau sadari siapa dirimu sekarang? Seberapa pantas kau berada di sini? Seberapa besar dirimu hingga pantas berada di kuil yang cukup besar pula? Atau seberapa pantas dirimu berada dalam kuil kecil yang mungkin tak elok sebagai pajangan? Inti dari hidup, begitu Pak Dorpi, guruku memberi nasihatnya, kesadaran pada sebuah kepantasan. Pantas untuk berada di mana? Pantas untuk melakukan apa? Pantas untuk mengambil peran yang bagaimana? Pun, kepantasan untuk berapa di level mana dan apa saja.

WKOBAY mungkin soal kepantasan. Juga soal kepatutan personal. Menyadari diri sendiri dengan segala kelemahan dan kelebihan seperti sebuah perjalanan panjang pencarian terus menerus ‘siapa aku’ itu sendiri. Semua orang berusaha untuk menemukan. Semakin tinggi mendaki semakin tak menemukan puncak. Semakin jauh melangkah semakin menemukan hampa. Asal dari segala yang ada adalah ketiadaan itu sendiri. Pada titik itu, kemanusiaan kita diuji oleh konsistensi. Percaya pada proses itu sendiri bukan pada hasil akhirnya. Begitulah kalimat bijak yang selalu kita dengar.

WKOBAY akhirnya bukan soal seberapa besar dirimu merasa sebagai (patung) Budha yang sebesar apa, sehingga layak bagimu ditempatkan di mana. WKOBAY lebih merupakan sebuah kunci dari sekian pertanyaan yang harus kau cari jawabannya. Seperti kata guruku, bukan jawaban itu yang penting tapi kesungguhanmu untuk mencari dan merumuskan jawabanmu itu yang berharga.

*****

Bagiku, Pak Dorpi, guru sekaligus teman diskusi yang menggemaskan nan mencemaskan. Sebagai guru, ia terlalu banyak bicara dan sangat ingin didengar. Aku tak bisa menolak itu. Karena memang tak ada dalam hatiku keinginan menolaknya. Kubiarkan pengalamannya masuk dalam pengetahuanku. Ini soal pelajaran yang harus kuterima. Jika kamu ingin lebih dewasa belajarlah mendengar. Jika engkau ingin pintar belajarlah membaca. Membaca apapun (tak harus buku) mulai dari gerak bibir sampai isyarat dalam tubuhmu sendiri. Jika engkau ingin tahu pergilah kepada orang-orang yang kau anggap lebih mengerti. Pak Dorpi, memberikan sesuatu yang belum aku dapati: belajar menjadi pendengar adalah kunci seni kepemimpinan.

Ia yang mendorongku pada sebuah pengakuan. Memimpin bukan soal mengatur dan kuasa atas segala. Memimpin bukanlah soal ilmu pemerintahan apalagi memerintah. Memimpin pada akhirnya adalah melatih pendengaran kita. Peka dengar peka pada gejala. Seperti nasihat seorang Kiai penyair dari negeri garam, Madura, yang senantiasa kukagumi puisi-puisinya: “embun yang dikabarkan tak fasih gema,” begitu ungkapnya, “heningnya menyadap ribuan gejala”.

Setetes embun bukanlah apa-apa jika tertimpa sinar matahari pagi. Setetes embun menjadi lain artinya jika ia mendengar dengung dan sentuhan gema, yang mengantarkannya bertemu pada getaran. Namun, dalam keheningannya, embun tak ubahnya sebuah perekam peka pada setiap gerak dan perubahan yang berlangsung di sekitarnya. Begitulah, kumaknai pertemuan itu sebagai sebuah persentuhan antara seorang murid dan gurunya. Sebuah perjumpaan embun dan matahari yang tak mungkin melahirkan gempa.

Pembicaraan selalu tak menemukan batas akhirnya kecuali rasa lelah mulai mampir di kelopak mata. Perjalanan jauh menempuh tak kurang dari 300 km., memaksaku untuk berkata lain. Kali ini aku pamit segera. Kelak, jika masih ada hari setelah pertemuan itu, kurasa ada banyak cerita lagi yang membuka tema dari setiap pertemuan dan perjumpaan penuh nuansa.

June 30, 2008

Pesantren Dan Tradisi Susastra

Zawawi Imron, kiai sekaligus penyair dari pulau garam mengemukakan bahwa perkembangan sastra pesantren berjalan seiring dengan perkembangan Islam itu sendiri. Hanya saja, per definisi, masih cukup kesulitan untuk memaknai apa yang dimaksud dengan sastra pesantren? Apakah disebut demikian karena karya-karya sastra itu, misalnya, dilatari oleh dinamika kehidupan pesantren?, atau para penulisnya (sastrawan) itu yang dilahirkan dari rahim tradisi pesantren.

Dalam berbagai wacana perbincangan soal ini keduanya selalu memperlihatkan kecenderungan silang sengkarut tentang pengertian dan maksud daripadanya. Namun, apapun istilahnya, begitulah cara yang biasa dilakukan untuk memudahkan wacana, kedua pengertian tersebut bisa digunakan dalam waktu bersamaan atau dalam konteks apa keduanya dapat menjelaskan secara sendiri-sendiri.

Secara umum, sastra pesantren pada akhirnya adalah sebuah karya sastra yang bercorak pesantren; baik dari aspek normatifitasnya, tradisi, para pelaku dengan segala keseluruhannya. Itulah mengapa misalnya, kita mengenal orang-orang seperti; Ahmad Tohari, Musthofa Bisri, Agus Sunyoto dan beberapa nama lain. Mereka semua jelas sangat dekat dan bahkan sehari-hari berada di lingkungan di mana komunitas orang sarungan belajar mengaji dan beberapa di antaranya mengembangkan imaji mereka untuk menulis dan menghasilkan karya-karya yang tidak kalah aspek estetika sastrawinya.

Belakangan, melalui berbagai karya-karya mereka yang lebih bervariatif, sastra pesantren semakin kelihatan bentuk dan potensi-potensinya. Jika dahulu kita lebih banyak mengenal beragam jenis suluk, maka saat ini karya sastra –apapun bentuk—dan orientasinya lahir dan sangat diminati. Pertanyaan yang kerap terlontar secara under estimate, “kok bisa ya orang pesantren menulis seperti itu?”. Sebuah pertanyaan yang kadang-kadang muncul dari kesombongan namun sekaligus rasa rendah diri melihat geliat tradisi dan budaya baca-tulis di pesantren beranjak cepat di luar yang diperkirakan sebelumnya.

Jelaslah, tradisi pengajian kitab kuning (model sorogan dan bandongan) telah ikut memberikan pengaruh signifikan bagi munculnya kegairahan menulis di kalangan para santri. Dari mendengarkan, memberikan arti sampai mencoba meraba dan memaknai makna mendorong terbentuknya ‘nalar bahasa’ (sastrawi) di benak para santri. Dari sanalah mulai berhembus angin kemajuan dari sebuah tradisi yang dianggap kuno dan penuh kejumudan. Sebuah tradisi yang telah berumur ratusan tahun namun diam-diam memberikan petunjuk kepada kita tentang besarnya potensi pesantren dalam melahirkan generasi para penulis melebihi apa yang dapat dilakukan pendidikan-pendidikan formal lainnya.

June 24, 2008

MU'ALLIM HUSNI

Karib saya, mu’allim Husni (M. Husni Thamrin), Betawi asli Pondok Pinang adalah tipe seorang agamawan yang ketat tapi longgar, longgar tapi ketat. Seperti mu’allim Syafi’i (Alm.) gurunya, tokoh kita ini juga pemegang tradisi fiqh yang sangat kental. Khas orang Betawi yang begitu suka dengan simbol. Tapi juga, pengaruh pandangan sufisme melekat dalam dirinya.

Mu’allim Husni ini karib saya waktu meguru di sebuah pesantren di bilangan Jakarta Selatan. Kepribadiannya begitu sederhana, namun pandangan keagamaannya tidaklah sesederhana kepribadiannya. Saya menaruh harapan besar kepada karib saya ini. Belum ada tokoh ulama Betawi yang begitu dihormati seperti mu’allim Syafi’i. Kelak, dan mudah-mudahan do’a saya ini terkabul, karib saya itu pelan-pelan dapat menggantikan peran gurunya.

Terakhir saya ketemu karib saya itu dalam suatu kesempatan di tengah-tengah agenda kerja saya di Jakarta. Bersama seorang teman, Lukmanul Hakim, doktor muda lulusan Australia yang sampai hari ini belum beristri, saya menggoda karib saya itu. “Ustadz,” begitu saya memanggilnya. “Gimana nih, kapan kita jalan bareng, nyanyi-nyanyi lah,” kataku. “Boleh,” katanya. “Tapi ada ga yang memberi garansi kepada saya tidak mati di tempat karaoke,” sambungnya.

Saya tertawa terbahak-bahak. Luar biasa karib saya ini. Menampar saya persis di muka. Tanpa basa-basi. Tangkas dan mengena betul. “Soal garansi itu gampanglah,” kata saya. “Tapi, ustadz maukan?”, tanya saya. Seperti setan saja saya ini. Membujuk seorang mu’allim untuk sebuah kegiatan yang belum pernah dilakukannya. Untuk menghormati teman, mu’allim kita ini tidak bisa menolak.

Pergilah kami ke sebuah tempat karaoke (family karaoke) di bilangan Permata Hijau. Bertiga kami seperti berlomba menampilkan bakat masing-masing. Sebetulnya bukan karaokenya yang menarik. Tapi, diskusi sepanjang perjalanan dari pergi sampai pulang, di tengah kemacetan Jakarta itulah yang sangat mengesankan.

Sebuah reuni yang menyenangkan. Bertemu dengan karib setelah lama tidak bersua. Pasti di antara kami menyimpan pertanyaan sendiri-sendiri. Wah beda banget ya sekarang. Wah lo sekarang jauh banget berubahnya. Aha... tapi tidak ada satu pun keluar kata-kata itu. Pertemuan kami bertiga sebenarnya terlalu serius untuk disebut sebagai reuni.

Di antara kami selalu ada perbedaan cara pandang atas sesuatu. Seperti karib saya, mu’allim Husni yang selalu bicara soal muru’ah. Lukman yang sibuk dengan urusannya mencari istri di sela-sela perhatiannya terhadap naskah-naskah klasik ulama nusantara. Sedang saya mencoba berargumen tentang etika sebagai landasan moral sosial dalam membangun peradaban manusia. Ce ile...tinggi banget!

Soal muru’ah sempat menjadi topik diskusi menarik kami bertiga. Mu’allim kita begitu ketat menjaganya. Suatu hari saya akan menulis topik ini secara lebih serius. Setidaknya diskusi kami soal ini cukup toleran. Pada sisi tertentu kami saling berdialog. Saling membuka ingatan dan mengeluarkan refleksi masing-masing. Semakin berdialog dengan mu’allim Husni, semakin besar respek saya padanya. Sekali lagi, saya berdo’a untuknya: Ingat ustadz! Mu’allim Syafi’i belum muncul penggantinya. Mungkinkah kelak kamu, karibku....

Penyebaran Dan Pewarisan Keilmuan Pesantren

Di masa lalu, apa yang mendorong orang-orang pesantren, alim ulama, dan kiai untuk menulis? Jelas di masa itu, Indonesia kini, masih bernama Hindia-Belanda. Bahkan jauh sebelum Hindia-Belanda, mungkin masih bernama Bumi Mataram, Tanah Pasundan, dan atau sebutan lain di luar itu.

Jaman itu, kita juga belum mengenal mesin cetak, yang mampu menghadirkan sebuah buku (kitab) sampai beribu eksemplar jumlahnya dalam satu kali hentak. Bahkan belum ada istilah royalti, copyrights, dsb. Barangkali mereka menulis di daun lontar, pelepah damar. Bukan kertas seperti yang bisa kita lihat dan gunakan sekarang. Dengan segala keterbatasan, tak menghalangi produktivitas dalam berkarya.

Hingga kini, karya-karya itu masih kita baca. Sebagian sudah diterjemahkan. Sebagian lagi masih tersimpan dalam bentuk manuskrip. Mungkin pula mikro film. Tak terhitung jumlahnya yang hilang. Lapuk dimakan usia. Atau terbuang sia-sia. Para ahli waris, disadari atau tidak, dan mungkin karena tidak terbiasa merawat masa lalu, membiarkan sebagian karya itu ditelan alam. Dari waktu ke waktu. Dari jaman ke jaman. Dari musim ke musim. Sebagian dari mereka barangkali tinggal sebuah cerita lisan. Mitos yang dihadirkan untuk sebuah keyakinan dan penghormatan masa lalu yang penuh emas.

Jadi, apa yang mendorong mereka menulis? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang dan berliku. Namun, dari mereka kita pelan-pelan semakin mengerti masa lalu. Kadang kita jumpai dalam bentuk dongeng, babad dan cerita-cerita dalam manakib. Dibaca dalam setiap acara haul. Mengenang mereka dengan penuh rasa takzim.

Orang-orang pesantren, dari dulu dan bahkan hingga kini, tak pernah surut dalam menulis. Apapun yang mereka pikirkan. Dari mana saja gagasan mereka berasal. Menulis, pada akhirnya menjadi kultur dalam tradisi pesantren. Terlepas bahwa ini disadari atau sebagian di antaranya lebih sebagai usaha memahami ajaran-ajaran dan wejangan-wejangan. Menerjemahkan kalimat, memahami kata, menghapal bait demi bait karangan. Begitu seterusnya. Berlangsung dalam sekian abad. Sampai sekarang dan sulit rasanya untuk mengatakan akan hilang sebagai legenda. Begitulah. Orang-orang pesantren kemudian melahirkan para penulis. Berkarya untuk masyarakat.

Sekurang-kurangnya, tradisi itu muncul dari dua pandangan:
Pertama, pandangan teologis. Menyebarkan ilmu adalah ibadah. Tak ada pikiran, niat untuk meraih popularitas, feedback ekonomi. Dan dasar dari dorongan itu adalah cinta ilmu sebagai bagian dari cinta ilahi.

Kedua, pandangan sosiologis. Ilmu harus diwariskan kepada masyarakat. Di luar tradisi menghapal, metode yang juga dianggap penting adalah menuliskan ilmu itu menjadi berlembar-lembar buku (kitab). Dari kedua tradisi itu, transferensi ajaran, kaidah-kaidah normatif kehidupan masyarakat disebarkan. Itulah mengapa pesantren tak sepi peminat para pencari ilmu. Tak kurang para penulis lahir dan dibesarkan dari kultur pesantren. Di masa lalu kita mengenal Syaikh Somad al-Palimbani, Syaikh rauf al-Sinkili, Syaikh Mahfudz al-Tarmasi, Syaikh Arsyad al-Banjari, Syaikh Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Syaikh Soleh Darat, Syaikh Yusuf al-Makasari, dan lain-lain. Karya-karya mereka hingga kini masih dibaca di pesantren-pesantren nusantara, bahkan sampai negara tetangga.

Di masa kini juga tumbuh dan lahir para penulis pesantren, semisal; Gus Mus, D Zawawi Imran, Mahbub Junaedi (Alm.), Ahmad Tohari, Agus Sunyoto dan sejumlah penulis muda seperti; Mahbub Jamaludin, Sachree M. Daroini, Zacky Zarung, Pijer Sri Laswiji, Ismah Kaze, Fina, Maya, dan masih seabreg para muda belia pesantren lainnya. Dengan tradisi dan metode yang baru. Dengan kultur dan tradisi yang sedikit berbeda dari dulu. Tapi, inti dari semua produktivitas kepenulisan itu tak lain; penyebaran dan pewarisan ilmu dari waktu ke waktu. Wallahu a'lam.

April 1, 2008

MENGAPA KITA (UMAT ISLAM) CENDERUNG REAKTIF!

Suatu ketika saya berdebat dengan seorang teman. Karena pendapatnya: orang masuk surga karena amalnya. Saya menolak pandangan itu. Bagi saya orang masuk surga karena rahmat-Nya. Karena cakupan pandangan ini lebih etis dan luas. Seperti kemahaluasan Tuhan itu sendiri. Kalau begitu, kata teman saya, sia-sia saja orang beramal shalih, katanya. Saya bilang: sama sekali tidak! Mungkin yang sia-sia itu niatnya: ingin masuk surga.

Lalu saya ceritakan kepada teman saya itu sebuah riwayat. Seorang pelacur masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Padahal dirinya juga bernasib sama. Sampai kemudian si pelacur tadi meninggal. Rahmat Tuhanlah, sifatnya yang rahman-rahim itu menyelamatkannya dari api neraka. Para da’i maupun khatib biasa dan sering mendengar riwayat ini.

Teman saya tercenung sejenak. Tatapan matanya ingin mengatakan sesuatu. Tak kunjung pula saya mendengar kalimatnya. Sampai kemudian ia berkata: Kalau begitu Thomas Alpha Edison pun akan masuk surga, katanya. Saya kembali mengatakan: belum tentu! Teman saya membantah. Lha, pelacur saja yang amalnya begitu di menit-menit akhir hidupnya bisa masuk surga, kenapa Thomas Alpha Edison, penemu bola lampu listrik itu belum tentu masuk surga, sergahnya.

Saya katakan padanya: masalah kita bukan soal surga-neraka. Kita sedang bicara tentang rahmat Tuhan yang maha kasih itu, sambil diam-diam saya memuji teman saya yang mulai kritis itu. Karena tidak puas, teman saya bilang: kamu ngaco! Ya sudahlah, kataku pelan. Mungkin kita berdiri pada sisi yang berbeda dalam melihat agama, kataku dalam hati.

Dari cerita itu saya ingin katakan bahwa kita sering bereaksi atas sesuatu sebelum mencoba melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang lebih luas. Seperti kasus teman saya tadi, seolah-olah hidup adalah ambang batas surga-neraka. Cara kita bereaksi atas kasus-kasus, peristiwa-peristiwa tertentu, khususnya berkaitan dengan sentimen agama acap kali didahului dengan cara pandang atas agama yang reaktif.

Singkatnya, sesuatu yang sedikit saja dapat menyinggung perasaan keagamaan kita dicap! Itu menghina. Kita patut tersinggung. Padahal, sekali lagi, kadang-kadang kita sendiri belum tahu persis substansinya. Ini seperti cerita Salman Rusdi dengan ayat-ayat setannya (The Satanic Versies). Novel yang menghebohkan. Novel yang mendorong Imam Khomeini memutuskan hukuman mati kepada penulisnya. Kita, mungkin saja sampai hari ini pun belum sempat membaca novel itu. Jangankan membacanya. Melihat saja buku itu jangan-jangan belum pernah.

Sama halnya dengan pendapat umum kita tentang film Fitna, karya Geertz Wilders, seorang anggota parlemen Belanda. Film yang dianggap menghina umat Islam. Menjelek-jelekkan Kanjeng Nabi, dan seterusnya. Segera setelah itu reaksi kita menjalar dari segala penjuru. Sampai di sini saya berpikir apakah tugas keberagamaan kita selalu berawal dari reaksi atas sesuatu. Semakin tinggi reaksi kita semakin baik cara kita beragama. Apakah harus begitu? Wallahu’alam.

March 28, 2008

BLOG NARSIS

Narsis (narsisme), identik dengan kesombongan, sok, merasa paling apa saja. Pokoknya paling-paling deh! Teknologi, dalam perkembangannya, paling menghargai narsis sebagai sebuah cara. Entah untuk apa saja. Bias sublimasi. Dapat digunakan pula untuk komunikasi. Di suatu kesempatan ia bisa menjadi ajang refleksi. Renungan tentang aku, kita dan yang lain. Narsis bagi kapitalisme adalah bentuk selling yang lain. Selling saling menguntungkan. Selalu ada cerita tentang bagaimana mendulang dollar lewat ajang ini.Dalam beberapa tahun terakhir, blog begitu diminati. Ajang narsis, bernama blog ini, secara luar biasa memiliki nilai rating tinggi. Bagi pengguna internet, mereka yang suka iseng dengan hal-hal baru, ngelamun apa saja bahkan menawarkan diri, blog seperti sebuah pilihan pertama. Seorang kawan pernah bercerita kepada saya. Kawannya kawanku, katanya, diundang ke Amerika karena situs dirinya itu. Blessing in disguise. Berkah teknologi.Blog laiknya sebuah buku diary. Apapun ceritanya, blog tahu cara mengatasinya. Adakah sisi edukatif dari blog? Mungkin jawabnya bisa ya bisa saja tidak! Bergantung dari sudut kemanfaatan macam apa ia digunakan. Secara gampang, saya lebih ingin mengatakan nilai edukatifnya lebih bernilai. Tentu saja ada sisi non edukatif. Bahaya penyimpangan penggunaannya. Sebagai contoh, blog bisa berupa jalan alternative persebaran pornografi.

Bagaimana mengatasinya? Apa harus diblokir pula? Atau masalah kita terletak pada euphoria saja. Artinya melihat sesuatu yang baru, demam! Karena itu, ingin coba-coba. Coba ini, coba itu. Jadi, mungkin tantangan kita ada pertama-tama pada diri sendiri. Selama sebagai manusia, kita membutuhkan orang lain. Katakanlah sistim social kita, misalnya. Dengan ini, bisa dilihat dari aspek pendidikan, kebijakan-kebijakan pemerintah, dll.

Intinya, semua pertautan nilai yang kita transaksikan di dunia maya haruslah bermuara pada rasa kedewasaan kita sendiri. Ah, benarkah?!

March 25, 2008

HARUSKAH SITUS PORNO DIBLOKIR?

Menkominfo, Muhammad Nuh, dalam sebuah kesempatan jumpa pers setelah pengesahan UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) di Jakarta, 25 Maret 2008, menegaskan rencana Pemerintah memblokir situs-situs porno di Indonesia. Hal ini, sebagaimana dikemukakan, dilandasi akal sehat yang universal. Begitu kira-kira berita yang bisa kita baca di situs berita online ternama.

Apa yang bisa kita bicarakan soal ini? Haruskah situs porno diblokir? Apakah dengan pemblokiran itu dengan serta merta menghapus/menahan hasrat dan keranjingan pengguna internet untuk menikmati gambar-gambar porno? Ataukah sebaliknya, hal ini akan memicu babak baru (baca juga: era baru kebebasan) setiap orang untuk melihat gambar-gambar porno dari berbagai sumber lain; HP dan situs-situs internet privat?Sebagai user, tak ada yang perlu saya sesali dari rencana Pemerintah memblokir situs-situs porno tersebut. Secara pribadi saya merasa tak dirugikan soal ini, meskipun akses saya melihat situs-situs porno menjadi berkurang (he he he). Masalahnya menurut saya bukan terletak di pemblokiran itu. Gamblangnya, pemblokiran bukan merupakan solusi yang tepat menangkal berkembang biaknya pornografi di Indonesia. Masalah kita bukan soal setuju dan tidak setuju dengan pornografi atau pemblokiran itu.


Atas kasus ini dan mungkin juga kasus-kasus lainnya, sebagai bangsa kita ini punya masalah dengan cara berpikir kita yang reaktif, sok bermoral dan lemah berpikir panjang. Seolah-olah dengan menutup sesuatu dengan sendirinya kita telah menyelesaikan masalah. Atau sekurang-kurangnya tengah menjalankan tugas suci keagamaan. Amar ma’ruf nahi munkar! Jadi, kadang-kadang cara kita mengambil keputusan begitu pendek pikir, kurang jembar melihat konsekwensi-konsekwensi logis dari keputusan yang kita ambil.


Saya teringat sekitar tujuh tahun lalu, saat di mana saya menjadi fasilitator workshop di salah sebuah pesantren di Sulawesi Selatan. Saat itu, kita tengah asyik berdiskusi tentang keberadaan kompleks pelacuran di Pare-Pare, antara tuntutan masayarakat kepada Pemerintah untuk menutupnya atau melokalisirnya dipandang dari sisi agama. Jawaban atas ini bisa banyak. Mungkin arus utamanya bisa saja dua kemungkinan: setuju dan tidak setuju ditutup.


Dan saya pun terkejut dengan kesimpulan para santri yang mengatakan lebih baik dilokalisir daripada ditutup. Kira-kira dasar dari pengambilan kesimpulan ini li-akhof dlororoin (memilih mana yang mudlarat dan mafsadatnya paling rendah di antara keduanya). Artinya, jika menutup kompleks prostitusi itu lebih besar mudlaratnya daripada manfaatnya, di mana dengan menutup kompleks prostitusi itu justru akan memicu prostitusi jalanan yang lebih liar dan buas, mengapa tidak dilokalisir saja? Jadi, masalahnya bukan memelihara kemungkaran di depan mata, tapi berpikir pada dampak sosial lanjutan dari aksi-aksi kita yang merasa paling suci.


Jika kita kembali kepada soal pemblokiran itu, akhirnya ini juga bukan soal bahwa Pemerintah berprestasi dalam membrantas pornografi di tengah-tengah segudang masalah melemahnya perlindungan negara terhadap rakyatnya sendiri.


Jadi, kira-kira dalam perspektif apa kita mau mendiskusikan masalah-masalah seperti ini? Wallahu’alam.

January 28, 2008

TENTANG KEMATIAN SOEHARTO


Peristiwa kematian, di manapun sama saja. Menyisakan kesedihan mendalam bagi mereka yang ditinggalkan. Drama tentang airmata yang berurai. Tentang hiruk pikuk para pelayat. Mereka yang mendoakan. Mungkin pula ada yang sumpah serapah. Hakikatnya boleh jadi sama: mengenang si mati. Entah kenangan yang mana mereka ingat. Semua tersimpan di hati. Tak ada yang bisa menceritakan. Kecuali diri kita sendiri.

Dalam kematian kita dianjurkan mengenang yang baik-baik dari si mayit. Berusaha memaafkan apa yang dilakukannya semasa hidup. Mencoba ikhlas. Dan sejauh mungkin ikut menjadi pengiring kepergiannya di tempat terakhir. Selamat beristirahat. Rest in peace. Selamat jalan. Semoga ada pelajaran dari mereka yang telah lebih dulu.

*****
Tentang drama itu tak ada yang paling ditunggu-tunggu pementasannya. Tak ada berita yang tak mungkin luput dari headline. Masa menunggu itu, diselingi beberapa babak drama lain yang mengitarinya. Drama tentang kemarahan, kekecewaan, tentang segala hal keberatan-keberatan orang. Drama yang telah lama dinanti sejak kejatuhannya. Inilah drama kolosal. Melibatkan puluhan ribu orang yang berdesak. Disaksikan jutaan pasang mata. Semua menghadap layar kaca. Mengikuti menit demi menit babak ceritanya.

Hari ini, begitu pengumuman resmi membacakannya. Pkl. 13.10 WIB telah berpulang bekas penguasa 32 tahun orde baru: HM. Soeharto. Pada tanggal 27 Januari 2008, setelah 24 hari bertarung dengan teknologi. Peralatan canggih, para dokter spesialis. Tapi, kali ini ia bertarung sendirian. Tak ada komando. Kecuali sepi dan kesendirian. Melawan sesuatu yang seharusnya tidak perlu: sunatullah. Hukum alam. Tentang usia. Tentang hidup yang bergerak menemukan jalan kematiannya.

Seorang kawan di hari kematian itu berkirim sms kepadaku: “secara pribadi maafkan kejahatan DIKTATOR itu. Sebagai warganegara menyesal tidak ada kepastian hukum atas SOEHARTO. Ini pelajaran pahit! TOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGAH TIANG”. Aku pun tak bisa menjawab. Apakah penting pula membalas sms. Aku tidak tahu. Apa memang seharusnya begitu. Atau menyimpannya saja dalam hati kita masing-masing.

Ataukah drama kematiannya adalah juga cerita beberapa babak yang terus akan berlangsung. Babak-babak cerita tentang orang-orang dekat. Anak emas. Tentang mereka yang lebih dulu mendulang citra. Mungkin pula sekarang sedang berpikir menutup atau membuka lubang selamat. Ini babak cerita tentang orang-orang yang ingin menemukan dirinya di tengah keramaian nan sepi. Juga cerita tentang kesepian dan keramaian.

Kawan! Mungkin babak-babak dari drama kolosal ini belumlah rampung dipentaskan. Mungkin pula masih ada cerita atau masih ada segelintir penulis naskah sedang menyusun plot cerita baru. Sekali lagi rasanya kita perlu menunggu. Dalam masa menanti itu rasanya manusiawi pula lah kita menyaksikan drama ini dengan kata-kata: We will be (still in) waiting! Forever…forever… whenever… whenever… Sayonara…..